Menuju 2665mdpl

Menuju 2665mdpl

Dari sini kita belajar, bahwa terkadang menikmati proses jauh lebih penting daripada sekedar mengecap hasil. Bahwa terkadang kita perlu duduk sejenak. Berhenti.

Bukan, bukan untuk menyelesaikan perjalanan. Kita hanya sekedar memandang pencapaian-pencapaian yang telah kita raih, menarik nafas lebih teratur, mengecek kembali perbekalan, kemudian menyiapkan langkah untuk kembali berjalan.

Karena perjalanan kita masih panjang. Seumur kita hidup, proses itu akan terus berjalan. Iya kan? : )

-catatan dari atap pondok salada, papandayan-

Senja Berpelangi

 

aku melihat pelangi!

di antara rinai hujan sore itu

berlatar langit kelam kelabu

indah..

 

aku melihat pelangi!

menemani perjalanan menutup hari

sunyi, ditengah riuh pemakai jalan senja tadi

saling menyusul seolah dipaksa waktu

 

hey, tidakkah kau melihatnya?

pelangi itu ada dua. iya, dua. indah bukan?

ah, mungkin kamu tak akan acuh

sibuk mengejar duniamu

 

tak apalah, yang jelas senja tadi

aku (masih) melihat pelangi!

 

———————————————–

teruntuk aku dan kamu yang masih menikmati cipta-Nya ditengah lelahnya dunia

Padang Edelweiss, Lembah Surya Kencana

padang edelweiss, lembah surya kencana

Izinkan aku bercerita. Tentang sebuah lembah di atas sana. Tentang perjuangan melangkahkan jejak. Tentang sebuah keabadian yang terperangkap dalam makhluk kecil berjuluk bunga. Edelweiss. Surya Kencana.

Ah, aku tahu tak akan ada yang abadi di dunia. Pun kamu. Juga sang edelweiss. Aku hanya berharap. Kita kan abadi di surga-Nya. Kelak bersama bunga-bunga cantik ini. Sahabat.

Mungkin sudah jadi salah satu kebutuhan manusia untuk rindu. Pada lembutnya hembusan angin di padang edelweiss. Atau celoteh anak-anak di jalanan pasar sore itu. Atau pada kekasih yang mungkin belum bertemu. Ya, terkadang kita rindu untuk merindu.